Tenggelam di Lautan Pasir Bromo Tengger

Sabtu, 25 Juni 2011

Adzan Subuh telah lantang berkumandang di Kota Madiun sekitar jam setengah lima pagi dan membangunkan saya dari tidur tanpa mimpi. Aneh, tidur tanpa mimpi. Atau mungkin saya sebenarnya bermimpi tapi setelah itu lupa ketika mata kembali terbuka. Entahlah, tapi memang tidur malam ini tidak begitu nyenyak. Terasa terlalu cepat tidur itu berlalu. Tak puas memang, tapi toh bisa saya lanjutkan lagi saat di bis nanti. Semoga.

Pagi ini saya bergegas mandi setelah shalat Subuh. Lalu mengecek kembali segala perlengkapan yang sudah saya siapkan di tas keril tadi malam. Sleeping bag, satu botol air minum 1,5 liter, dua botol air minum 600 ml, satu bungkus roti sobek, satu bungkus agar-agar, tiga bungkus wafer karamel, satu kotak minuman berenergi, obat-obatan, plester luka, sepatu gunung, jas hujan, kamera pocket, senter, jaket, sarung tangan, penutup kepala, kaos kaki, baju dan celana ganti, handuk, sikat gigi dan odol, handphone cadangan, dan uang 250 ribu. Semua sudah siap, tadi malam tak lebih dari 15 menit untuk menyiapkan itu semua. Sebuah rutinitas, jadi saya sudah hafal apa saja yang saya butuhkan jika akan melakukan ini lagi.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 05.25 WIB, saat saya mulai berangkat dengan motor menuju terminal. Awal rencana memang saya ingin menggunakan motor saja untuk mencapai tujuan, tapi rencana itu saya urungkan. Entah karena alasan apa tapi yang pasti esok harinya saya akan sedikit menyesal karena telah membatalkan rencana itu. Hanya sedikit.

Hanya 5 menit, saya telah sampai terminal. Langsung menuju parkiran, mengunci helm, menerima kartu parkir, lalu menunggu bis yang menuju arah Surabaya. 05.40 WIB bis yang ditunggu datang. Sumber Kencono, bis yang sudah tidak asing lagi untuk jalur Jogjakarta-Surabaya. Terkenal dengan kecepatan dan kemahiran pengemudinya, tapi tak sedikit juga yang mengenalnya karena kecelakaan yang sering dialaminya. Tak peduli, bagi saya yang penting murah, cepat, dan nyaman. Semua itu sudah dipenuhi oleh bis ini. Dengan biaya 12.500 rupiah saya melaju menuju Mojokerto. Mojokerto? Bahkan sedetik sebelum ditanya kondektur tentang ke mana tujuan saya, saya masih belum tahu hendak berhenti di mana. Surabaya atau Mojokerto? Akhirnya setengah refleks saya jawab Mojokerto, dengan harapan bisa lebih cepat tanpa harus mengambil jalur memutar dan terjebak macet lumpur lapindo yang tersohor itu.

Hampir dua setengah jam saya tidur di bis. Sesekali terbangun entah karena apa, tapi ketika mata ini sempat terbuka pemandangan pagi hari yang cerah terlihat jelas dari kaca bis. Kumpulan pohon jati sepanjang jalan perbatasan Madiun – Nganjuk yang diterpa sinar matahari pagi begitu indah. Seharusnya saya bangun saat itu dan menikmatinya, tapi rasa kantuk ini terlalu sulit dikalahkan. Saya pun kembali terlelap.

Memasuki Kota Jombang, saya akhirnya tersadar penuh. Saya hafal betul kota ini. Sejak umur lima tahun ketika pertama kali saya bisa mengingat bahwa saya pernah pergi ke sini, hampir setiap Idul Fitri saya jalani di sini. Di sinilah kampung halaman ibu saya. Setidaknya sampai tujuh tahun yang lalu, ketika mbah kakung wafat, saya dan keluarga masih rutin melakukan ritual mudik yang sangat populer di masyarakat Jawa. Fenomena ini sebetulnya cerminan ketidakmerataan lapangan kerja di Indonesia, dari dulu sampai sekarang. Orang-orang dari luar Ibu Kota dan kota-kota satelitnya berbondong-bondong mengundi nasib di tempat yang katanya banyak lowongan pekerjaan dan terkenal dengan lahan ‘basah’-nya. Semua tumpah ruah di Jabodetabek bersaing mencari sesuap nasi atau sebongkah berlian. Hari-hari kerja Jabodetabek terasa begitu hidup dengan lautan manusia dan kendaraan. Namun, begitu memasuki hari-hari terakhir Ramadhan dan menuju ‘hari kemenangan’, Jabodetabek kehilangan riuhnya. Kini riuhnya berganti di sepanjang jalan Pantura dan Nagreg. Semua berdesakan di jalanan yang tak mampu menampung lonjakan arus kendaraan, dengan satu niat baik, silaturahmi dengan keluarga di kampung halaman.

Satu jam berlalu dari Jombang, akhirnya bis yang saya naiki tiba di terminal Mojokerto. Dari terminal Mojokerto saya lanjutkan perjalanan menuju Pasuruan dengan menggunakan bis kuning trayek Mojekerto – Pasuruan. Awalnya memang tujuan saya ke Pasuruan, tapi akhirnya saya mengubah rencana menjadi Gempol saja, tidak sampai Pasuruan. Saya membayar tujuh ribu rupiah untuk sampai ke Gempol melalui Kota Mojosari. Dari Mojosari menuju Gempol saya disajikan pemandangan yang tak kalah indah. Gunung Arjuno dan Gunung Welirang gagah berdiri begitu dekat di kanan jalan. Tiba-tiba, ingin rasanya berhenti dan mulai mendaki dua gunung itu, haha.. Tentu saja itu hanya niatan kosong, tujuan perjalanan saya bukan dua gunung itu, bukan juga Gempol atau bahkan Pasuruan. Tujuan saya masih menunggu di timur sana.

Setelah sedikit berkutat dengan macet di pertigaan Gempol, akhirnya saya sampai di gapura selamat datang Kabupaten Pasuruan, tidak jauh dari Gempol, dekat dengan ujung tol menuju Surabaya yang lumpuh akibat lumpur. Saya berhenti di situ, tempat yang bagi saya juga tidak asing karena hanya berjarak satu atau dua kilometer dari tempat tinggal budhe saya, yang selamat dari musibah lumpur karena terhalang oleh Kali Porong. Di tempat itu saya menunggu bis yang menuju Probolinggo, kota sebelah timur Pasuruan.

Lima menit menunggu, bis Ladju, kelas ekonomi tujuan Banyuwangi melintas. Saya putuskan untuk segera naik dan membayar sembilan ribu rupiah menuju Probolinggo. Perjalanan lambat, saya yang tadinya berniat tidur jadi tidak bisa. Entah kenapa saya sangat sulit sekali tidur jika kendaraan yang saya naiki berjalan lambat atau terjebak macet. Lambatnya laju bis ini karena begitu banyak kendaraan yang melintas, terutama truk besar, namun ruas jalan tidak lebar. Sangat berbeda dengan ruas jalan sepanjang Madiun hingga Gempol.

Matahari mulai meninggi, target saya yang semula sampai tujuan sebelum jam tiga sore hampir saja menguap. Jalan dari Gempol hingga Probolinggo sama sekali tidak saya kenal. Saya baru pertama kali melalui jalur ini dan tidak bisa mengira-ngira akan sampai jam berapa nanti di Probolinggo. Tapi, syukur, tepat jam dua belas bis ini sampai di terminal Probolinggo. Rencana masih mungkin berjalan sesuai. Mungkin.

Sampai di terminal saya langsung cari makanan. Saya makan di tempat makan dekat mushalla dan toilet. Menu yang saya pilih adalah soto ayam. Mungkin karena haus sehingga saya pilih makanan yang berkuah dan saya lihat daftar harganya pun tidak menguras kantong, cukup tujuh ribu rupiah termasuk nasi tanpa minum. Wow! Enak! Lebay? Entahlah, tapi saya sangat menikmati santapan ini. Sebagai keturunan orang jawa, saya sangat suka masakan jawa, termasuk soto yang khas jawa, dan bagi saya soto ini pas dengan lidah saya, pas juga harganya. Suatu saat saya akan makan ini lagi jika berkesempatan menjejakan kaki di terminal Probolinggo.

Setelah sholat Dzuhur dan jama’ Ashar, serta buang air kecil, saya melangkahkan kaki saya keluar terminal, tempat angkutan menuju Cemoro Lawang menunggu penumpang. Saat berjalan menuju ke sana, banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya. Tujuh puluh lima ribu menuju Cemoro Lawang. “ngga mas, kemahalan,” saya pun menolak untuk naik ojek, karena jika naik angkutan biasa, tarifnya hanya dua puluh lima ribu bahkan seharusnya dua puluh ribu saja. Dan tanpa saya sadari, sebuah pengalaman pun telah menanti saya beberapa saat lagi.

Seperti biasa saya langsung digiring menuju angkutan, begitu terlihat membawa tas keril cukup besar. Mau kemana lagi selain Bromo? Sebuah ‘SOP’ para supir angkutan di situ jika melihat orang ‘aneh’ melintas keluar terminal. Pikir saya hari ini adalah hari Sabtu dan pasti akan banyak yang mau ke Cemoro Lawang, desa terakhir dan terdekat ke kompleks Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (kecuali tujuan Anda bukan Bromo, tetapi Semeru atau Gunung Penanjakan), jadi tidak perlu menunggu penumpang penuh terlalu lama. Namun, ternyata di luar angkutan itu hanya seorang bapak yang sedang menunggu. Dan yang lebih mengangetkan saya lagi dia telah menunggu dari jam sembilan pagi tadi.

Purhadi namanya, dia pergi bersama anaknya yang bernama Aris, mahasiswa semester 4 Universitas Negeri Surabaya, dari rumahnya di Tuban. Mereka berangkat dari Tuban jam satu pagi dan sampai di probolinggo ini jam 9 pagi. Namun tak beruntung, mereka hanya ditemani satu orang bule Inggris, George, sehingga tidak bisa langsung berangkat. Angkutan menuju Cemoro Lawang ini berkapasitas 15 orang dan baru akan berangkat jika pemasukan tiga ratus ribu rupiah terpenuhi. Tarif terendah itu dua puluh ribu, tapi itu hanya berlaku bagi penduduk sekitar, sedangkan para wisatawan segembel apapun dikenakan tarif minimal dua puluh lima ribu yang bisa jadi berlipat-lipat jika hanya ada beberapa penumpang saja.

Sebenarnya Pak Purhadi mau saja berangkat sejak tadi dan membayar lebih mahal, tapi justru George yang keukeuh tidak mau dan memilih menunggu sampai penuh. Walaupun sudah datang Martin dan Michelle, bule Prancis, George tetap tidak mau karena ongkosnya masih mahal, bahkan dua orang bule Prancis ini lebih ngotot untuk mendapatkan tarif paling murah.

Setelah saya datang, saya didaulat oleh supir dan rekan-rekannya untuk negosiasi dengan mereka. Saya berusaha menjadi mediator yang netral, biar kedua pihak sama-sama puas, tapi karena saya juga sebenarnya berada di kubu para bule karena bergelar nasib sebagai wisatawan kere, maka negosiasi pun jadi berat sebelah, hehe.. Negosiasi pertama gagal, para bule lebih memilih menunggu lagi, saya pun begitu. Saya sudah melupakan rencana harus sampai Cemoro Lawang sebelum jam tiga sore, daripada harus membayar lima puluh ribu karena jumlah kita baru berenam saat itu, jam satu siang. Sebenarnya sempat berhasil ditawar hingga empat puluh ribu, namun para wisatawan kere tetap tidak mau. Kita menunggu hingga jam dua.

Keputusan menunggu ternyata benar, datang lagi satu orang bule Inggris, kemudian disusul Natalia, anak Jakarta dengan temannya bule Australia. Jumlah kita jadi sembilan. Tapi, tetap saja tidak bisa membuat ongkosnya menjadi dua puluh lima ribu. “tiga puluh ribu!” Si supir membunyikan ultimatum. Namun, bukannya kalah gertak, para bule tetap ingin dua puluh lima ribu. Apalagi George yang heran padahal tadi saat berenam sudah hampir setuju empat puluh ribu, tapi kenapa ketika jumlahnya jadi sembilan malah hanya berkurang menjadi tiga puluh ribu. Dalam ilmu tawar-menawar sepertinya siapa yang paling teguh pendirian dan sabar dia yang menang. Dan akhirnya kami para wistawan kere yang menang. Dua puluh lima ribu seorang, tapi si supir bebas ambil penumpang di tengah jalan. Tak masalah.

Sepanjang jalan menuju Cemoro Lawang, saya lebih banyak diam. Saya lebih tertarik melihat keadaan sekililing yang begitu indah, terutama ketika hampir sampai di Cemoro Lawang, daripada berbincang-bincang dengan penumpang lainnya. Tapi, saya pun sempat berbicara dengan George yang duduk bersebelahan dengan saya. “How long you have been in Indonesia?” Saya pun membuka percakapan. Ternyata dia telah berada di Indonesia selama 3 minggu dan telah mengunjungi Bali, Lombok, dan Pulau Komodo. Seketika saya dibuatnya iri. Lombok, Pulau Komodo, Ubud di Bali, masih menjadi impian bagi saya. Semua itu dia dapatkan informasinya hanya dari satu buku Lonely Planet tentang Asia Tenggara. Saudara dan teman-temannya tidak tahu menahu tentang Indonesia sama sekali ketika saya tanya apakah Indonesia terkenal di Inggris. Saya jadi berpikir, seharusnya pemerintah Indonesia berterima kasih pada Lonely Planet yang lebih gencar dan detil menginformasikan tempat-tempat wisata di Indonesia ke seluruh dunia ketimbang pemerintah sendiri.

Selain dengan George saya juga bicara dengan Natalia. Dia dan temannya setelah dari Bromo ini akan menuju ke Kawah Ijen. Saya yang setahun sebelumnya pernah berkesempatan mengunjungi Kawah Ijen yang luput dari ‘radar’ wistawan lokal pun menceritakan pengalaman saya. Setelah panjang lebar bercerita dan memberitahukan bahwa kendaraan menuju ke sana sangat sulit, mulai muncul sedikit keraguan dari dirinya, tapi keraguan yang disertai rasa penasaran. Entah apa itu namanya. Sesuatu hal yang terlihat sulit memang akan membuat kita merasakan dua hal bersamaan, ragu dan penasaran, namun masing-masing memiliki intensitas yang berbeda tergantung diri kita lebih memilih untuk dikuasai perasaan yang mana. Sampai saat ini saya tidak tahu kabar Natalia dan temannya apakah sampai di Kawah Ijen atau tidak, saya hanya berharap mereka memilih rasa penasaran untuk menguasai diri mereka, karena manusia lebih sering mengalah pada ragu yang berujung penyesalan, termasuk saya.

Satu setengah jam berlalu sampailah kami di Cemoro Lawang. Begitu sampai kami langsung disambut dengan berbagai macam penawaran, dari penginapan sampai hartop lengkap dengan paket wisata kelilingnya untuk esok hari. Karena kami bukan dari satu grup, kami pun bingung untuk menanggapi segala macam penawaran. Bahkan Pak Purhadi dan Aris tiba-tiba saja menghilang dari kami tak tahu kemana. Saya sempat berbincang sebelumnya dengan Natalia kalu saya berencana untuk ke Penanjakan 2 sore itu juga dan ‘menginap’ dengan sleeping bag saya di sana. Penanjakan 2 merupakan view point paling tinggi yang bisa dicapai dari Cemoro Lawang. Posisinya lebih rendah dari Penanjakan 1 yang sekarang hanya bisa dicapai melalui Wonokitri, Pasuruan. Tahun lalu terjadi longsor di jalan yang menghubungkan Bromo – Penanjakan 1, jadi dari Cemoro Lawang tidak bisa lagi ke Penanjakan 1. Itu informasi yang saya dapatkan dari penduduk Cemoro Lawang, belum saya buktikan sendiri ke sana. Bisa saja mereka berbohong entah karena alasan apa. Bisa saja.

You are crazy!” Seketika ucapan itu meluncur dari temannya Natalia, karena mengetahui rencana saya. Bayangkan tidur di ketinggian dua ribuan meter di atas permukaan laut, hanya bermodalkan sleeping bag tanpa tenda, ditambah gelap dan sendiri. Dan saya hanya menjawab datar tanpa ekspresi, “really?”. Haha.. sebenarnya saya juga masih ragu untuk melakukan itu. Satu-satunya alasan kenapa saya ragu adalah yang berpikir seperti itu hanya saya. Kalau saja ada satu orang lagi saat itu yang berpikiran sama, rasa penasaran akan dengan mudah menang mutlak dari rasa ragu saya.

Kami terpisah, atau lebih tepatnya saya yang memisahkan diri, kabur dari segala macam tawaran para penduduk yang membuat saya kesal. Niat awalnya hanya ingin menikmati dulu pemandangan Gunung Bromo dan Gunung Batok dari Cemoro Lawang untuk beberapa menit. Namun ketika kembali ke tempat saya dan teman-teman lainnya turun dari angkutan, saya tidak bisa menemukan mereka lagi. Baik, tanpa pikir panjang saya langsung mengarahkan kaki saya ke Penanjakan 2. Sendiri.

Setelah berganti dari sendal gunung dengan sepatu gunung yang lebih nyaman dipakai dalam keadaan berpasir, saya siap berangkat menuju Penanjakan 2. Waktu menunjukkan setengah lima sore. Matahari mulai tertutup pungggung Gunung Penanjakan 2, tetapai Bromo dan koloninya masih terlihat cerah ditemani asapnya yang terus mengepul menutupi Semeru di kejauhan. Berjalan ke arah Barat Laut menjauhi pusat Cemoro Lawang, saya akhirnya menemukan kesunyian. Ladang dan rumah penduduk yang jarang-jarang berharmoni dengan orang-orangnya yang ramah dan tenang. Jauh berbeda dengan pusat desa Cemoro Lawang yang orang-orangnya sangat bawel tawar sana-sini. Mungkin dulu sekali, semua masyarakat di sini adalah seperti yang saya temui di jalan menuju Penanjakan 2 ini. Ramah, tenang, dan saya pun tidak segan-segan untuk menyapa tanpa harus khawatir berujung kesal karena lagi-lagi ditawari ojek, hartop atau penginapan.

Satu jam jalan menanjak dan semakin menanjak mendekati Penanjakan 2, akhirnya saya sampai di Penanjakan 2. Dari berbagai macam sumber, selain Penanjakan 1, di sinilah tempat terbaik untuk menikmati sunrise Gunung Bromo. Dari sini terlihat 5 Gunung dalam koloni Gunung Bromo Tengger, yaitu Gunung Bromo (2.392 mdpl), Gunung Batok (2.470 mdpl), Gunung Widodaren (2.650 mdpl), Gunung Kursi (2.581 mdpl), dan Gunung Watangan (2.662 mdpl). Dari kesemuanya hanya Gunung Bromo yang aktif dan terus mengepulkan asap ke udara. Selain itu sebagai latar belakang, terlihat Gunung Semeru (3.676 mdpl) yang lebih tinggi. Semeru tidak terletak di kaldera Tengger, namun masih dalam satu kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pemandang itu semua saya dapatkan sendirian di Penanjakan 2 ini yang terdapat dua bangunan untuk berteduh, pada saat sunset. Beda rasanya, karena matahari tenggelam tidak akan terlihat dari sini, tapi tak apa justru ini pengalaman yang berbeda.

Saya ingin sedikit cerita tentang penamaan Tengger. Sebuah nama yang juga merupakan suku asli daerah ini. Alkisah, pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta Brahma bernama Joko Seger.

Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju di kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Roro Anteng dan Joko Seger. Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger Yang Budiman”.

Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Roro Anteng dan Joko Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Roro Anteng dan Joko Seger berumah tangga belum juga dikaruniai keturunan.

Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan. Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya dua puluh lima orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya.

Pendek kata pasangan Roro Anteng dan Joko Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib, “saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.” Atas dasar cerita itu, maka setiap tanggal 14 bulan Kasada dalam penanggalan jawa, di Pura Agung Poten, yang terletak di kaki Gunung Bromo dan Gunung Batok selalu dilakukan ritual upacara Kasada yang semakin membuat menarik wisatawan untuk berkunjung. Mungkin dalam konsep agama yang lebih mudah ‘manusiawi’, cerita ini bisa diibaratkan seseorang yang berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, tapi setelah permintaan itu dikabulkan bukannya rasa syukur yang ditunjukkan tapi malah tingkah laku kufur yang dilakukan, maka murka dan azab-Nya lah yang akan diterima. Ya, mungkin pesan itu yang ingin disampaikan dalam upacara Kasada tersebut. Saya hanya berusaha positif saja.

Maghrib tiba, saya pun urung tinggal di Penanjakan 2. Saya tak punya cukup nyali berada sendiri dan kedinginan. Saya memutuskan untuk kembali ke Cemoro Lawang dan tidak berencana kembali lagi ke sini besok pagi. Saya punya rencana lain.

Keberuntungan itu muncul, di tengah jalan menuju Cemoro Lawang saya mendapatkan tumpangan motor gratis. Saya minta diantarkan ke masjid, karena berencana untuk shalat dan tidur di sana kalau bisa. Ternyata untuk menuju masjid harus melewati gerbang taman nasional, dan harus beli tiket masuk sekitar empat ribu rupiah kalau tidak salah. Walaupun murah akhirnya saya tidak bayar karena bareng mas-mas yang memberikan tumpangan motornya.

Saya sampai di masjid. Sepi, terkunci, dan tak ada air. Sempurna! Saya tidak heran kenapa begini. Masjid di tempat seperti ini memang sangat mudah dilupakan. Saya berprasangka baik saja, semua shalat di penginapan masing-masing. Tapi bagaimana yang tidak ada penginapan? Ya mau tidak mau saya berwudhu dengan air minum saya dan shalat di teras luar yang terlebih dahulu harus saya sapu karena penuh dengan debu. Bedakan dengan debu di keseharian kita, debu yang saya tulis ini adalah debu tebal, mungkin pasir, seperti yang menutupi seluruh wilayah Cemoro Lawang, terbawa oleh angin dari lautan pasir di bawah sana.

Di bawah? Kaldera Tengger itu seperti cekungan, di tengah-tengah berkumpul koloni lima gunung, Bromo dan teman-temannya. Dan cemoro lawang berada di tepi cekungan berbatasan dengan tebing rata-rata hampir tegak sedalam puluhan meter. Jadi untuk ke Bromo dari Cemoro Lawang harus menuruni tebing tersebut dan berjalan di lautan pasir. Sensasi seperti tenggelam ketika berjalan di lautan pasir akan saya rasakan esok harinya. Tapi tenang, bagi wisatawan normal, tersedia jalur motor dan mobil yang lebih manusiawi.

Berbicara tentang tenggelam, untuk pertama kalinya saya rasakan kata itu ketika saya memandang kumpulan bintang dengan bilangan tak terhitung di seluruh penjuru langit malam. Berkas putih Bima Sakti pun nampak jelas melintasi langit. Saya tenggelam! Saya tenggelam dalam kepungan bintang-bintang, saya tenggelam dalam seluruh keindahannya yang sesekali bertambah oleh meteor-meteor yang menabrak atmosfer bumi, saya tenggelam dengan rasa inferioritas diri saya terhadap-Nya.

Kata ‘bintang jatuh’, saya tidak tahu berasal dari mana dan sejak kapan. Tapi yang jelas itu sangat salah kaprah. Terdengar lebih filosofis dan romantis memang daripada meteor jatuh yang terdengar lebih seram. Tapi kenyataannya, akan lebih seram jika yang sebenarnya terjadi adalah bintang jatuh. Meteor jatuh adalah hal yang terjadi setiap detik di seluruh belahan bumi, yang berarti peristiwa terperangkapnya benda-benda asing luar angkasa ke dalam gravitasi bumi dan menimbulkan gesekan ketika menabrak atmosfer bumi sehingga tampak garis bercahaya. Benda asing tersebut tidak begitu besar sehingga bisa tembus sampai ke permukaan bumi. Kebanyakan habis oleh gesekan atmosfer. Tapi tetap saja ada yang bisa berhasil lolos, salah satu buktinya adalah Kawah Arizona di Amerika Serikat yang terjadi akibat tumbukan meteor. Mungkinkah kaldera Tengger seperti itu? Menurut para ahli geologi terbentuknya kaldera Tengger adalah murni peristiwa geologis yang bertahap selama puluhan ribu tahun. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri saja.

Setelah puas menikmati langit malam yang sangat jarang saya lihat, saya memutuskan untuk makan. Nasi dan mie rebus menjadi pilihan, cukup enam ribu rupiah tanpa minum. Setelah makan saya kembali ditawari penginapan dari berbagai arah. Saya nyeletuk, “Telung puluh ae, Pak” Saya menawar satu kamar tiga puluh ribu setelah tadi sore harga penawaran mulai dari angka seratus ribu. Yah, sudah terlanjur bilang dan diiyakan, mau tidak mau saya ambil saja. Tiga puluh ribu satu kamar, fasilitasnya pun tidak ada, hanya tempat tidur muat dua orang dan lampu, tanpa ada colokan listrik, apalagi air hangat dan sarapan, haha.. Tak apa lah, tidak jadi ber-sleeping bag ria di alam bebas, setidaknya besok seharian saya akan melakukan hal yang cukup gila, jadi saya manfaatkan kamar ini dengan sebaik-baiknya untuk istirahat. Dan saya kembali tenggelam, dalam dingin dan lelapnya tidur.


Minggu, 26 Juni 2011

Setengah lima pagi saya bangun, sama seperti hari kemarin, tapi tanpa suara adzan Subuh berkumandang. Bergegas shalat dan bersiap berangkat. Begitu keluar penginapan sudah berjejer banyak sekali mobil dan motor. Berbeda seperti malam sebelumnya. Mungkin pengunjung tadi malam banyak yang baru datang, dan saya cukup yakin kebanyakan mereka tidak tidur dan menikmati malam bersama teman-teman. Sekedar mengobrol, tertawa, merokok, main kartu, ngemil, atau mungkin mabuk. Semua itu bisa saja saya dapatkan, kecuali merokok dan mabuk, tapi bukan saat ini, tujuan saya datang berbeda dengan kebanyakan pengunjung di sini. Jam lima saya mulai jalan sudah terlihat di Penanjakan 2 ramai kelap-kelip blitz kamera dan lampu kendaraan. Memang standarnya adalah mulai berangkat ke sana sebelum jam 4 pagi. Kalau saya kemarin tidak sempat ke sana, mungkin saya akan melakukan hal serupa, tapi tetap jalan kaki. Namun karena sore kemarin saya sudah ke sana, pagi ini saya tidak ke sana, saya memilih shalat dulu di penginapan baru memulai perjalanan. Perjalanan langsung menuju Gunung Bromo.

Saya mengambil jalur berbeda. Jalur sebenarnya adalah dari penginapan saya cukup lurus mengikuti jalan besar menuruni tebing ke arah Bromo. Tetapi saya berjalan menuju Penanjakan seperti kemarin, tetapi di tengah jalan saya berbelok ke kiri melintasi ladang penduduk dan menuruni tebing melalui jalan setapak yang bisa juga dilalui kuda. Melakukan hal seperti saya memang mengorbankan pemandang matahari terbit, tapi tujuan saya bukan matahari terbit, tapi Bromo dan Batok. Toh, dari Penanjakan 2 pun tidak akan bisa ‘menangkap’ Bromo dan matahari terbit dalam satu frame kamera. Keputusan saya lumayan benar, karena matahari terbit tidak dapat dilihat akibat awan yang membentang di arah timur. Tak harus merasa rugi karena tidak menikmati matahari terbit di Penanjakan.

Saya tiba di bawah, sebuah daratan yang menurut saya hampir datar dan dikelilingi tebing-tebing tegak. Saya coba membayangkan bagaimana ini terbentuk. Buntu. Saya bukan geologis. Tapi tanpa saya tahu pun saya sudah bisa bersyukur atas itu semua. Jalan di dataran ini lurus langsung menghadap Bromo. Didominasi pasir dan tanaman-tanaman bawah seperti senduro (Anaphalis javanica), alang-alang, paku-pakuan (Pteris sp.), rumput merakan (Themeda sp.), adas (Foeniculum vulgare) dan lainnya membuat saya akhirnya merasakan sensasi awal tenggelam di lautan pasir Bromo Tengger. Belum seberapa. Masih ada sensasi tenggelam lainnya menanti saya.

Empat puluh lima menit berjalan saya sampai di depan Pura Agung Poten di kaki Gunung Bromo dan Batok. Sepi dan tertutup. Bagi saya unik sekali bangunan ini berada di tempat seperti ini. Dari Pura ini saya mulai mendaki ke atas Bromo yang bersisian dengan Batok. Sensasi tenggelam selanjutnya mulai terasa di awal pendakian. Aneh, makin ke atas kaki saya semakin tenggelam. Pasir kelabu ini begitu tebal dan semakin menebal hingga puncak. Bahkan, tahun lalu tangga di dekat puncak serta pagar-pagarnya masih bisa ditapaki, sekarang sudah tak terlihat lagi. Semua tertutup pasir muntahan kawah Bromo akhir tahun 2010 lalu. Bukan karena semakin tinggi derajat kemiringan yang mebuat saya sulit menanjak, melainkan kaki-kaki saya yang semakin tenggelam setiap melangkah ke atas yang menghambat. Terkubur hingga betis, lalu terseret turun kembali. Jika salah teknik melangkah, maka setiap energi yang dikeluarkan untuk melangkah tidak akan menghasilkan perpindahan, dengan kata lain tidak ada usaha, efisiensi nol. Sia-sia.

Setengah 7 pagi saya sampai di puncak setelah bersusah payah lolos dari hadangan pasir yang menumpuk. Rasa lelah bercampur ngeri ketika saya melihat lubang menganga jauh di bawah sana terus mengepulkan asap putih. Tapi saya lega, akhirnya saya sampai juga di puncak Bromo. Sambil beristirahat sejenak sekaligus berbincang dengan pengunjung lainnya, saya mengabadikan keadaan di puncak degan kamera saya. Puas menikmati pemandangan dari puncak Bromo saya kembali turun, perjalanan belum berakhir.

Sampai di kaki Bromo, saya melangkah ke arah tenggara, ke lautan pasir yang sebenarnya. Memotong jalan dari jalur kendaraan saya menembus padang pasir bak seorang pengembara yang tengah melewati gurun pasir di Afrika atau Timur Tengah. Tak begitu mirip memang, tapi boleh lah saya sedikit berangan-angan. Sendiri di tengah padang pasir, di tengah-tengah kaldera Tengger jauh dari tepi tebing-tebing vertikal, kini saya benar-benar tenggelam dalam lautan pasir Bromo Tengger. Hanya sesekali titik-titik kecil bergerak di kejauhan. Kendaraan lalu lalang di jalur normal.

Mendekati akhir lautan pasir, langkah kaki mempertemukan saya dengan jalur normal. Hartop dan motor lalu lalang mengepulkan debu ke arah muka saya. Hanya sekali pengendara motor yang menawarkan tumpangan. Tapi saya tolak, “saya mau menikmati jalan kaki mas, makasih udah nawarin.” Beberapa jam lagi saya akan sedikit menyesal karena telah menolak, berbarengan dengan rasa penyesalan saya karena tidak membawa motor saja. Hanya sedikit.

Akhir dari lautan pasir, awal dari padang rumput. Tanaman jenis rumput-rumputan mendominasi. Kuning warnanya karena kemarau, hanya yang di ketinggian yang berwarna hijau. Saya beristirahat sejenak, akhirnya saya berhenti setelah satu setengah jam berjalan di lautan pasir. Saya sarapan di situ, sekitar jam setengah sembilan pagi tapi teriknya seperti matahari sudah di atas kepala. Sebenarnya matahari juga hampir di atas kepala saat itu. Cepat sekali.

Sarapan roti dan agar-agar terasa begitu nikmat. Di sekeliling tebing dan bukit hijau berwarna kontras dengan langit biru tanpa awan, namun bergradasi dengan warna kuning ke arah bawah. Saya mengucap rasa syukur berkali-kali atas keadaan ini. Lalu saya kembali teringat, rencana ini memang sudah dibuat beberapa bulan lalu, bahkan sempat dengan beberapa orang teman. Tapi, saya tak terbayang jika itu terjadi, mungkin kah mereka akan mengeluh saat di tengah-tengah lautan pasir tadi? Atau sama seperti saya, akhirnya menikmati keindahan di depan mata ini? Entahlah.

Melanjutkan perjalanan terus ke arah barat, tujuan saya satu, Desa Ngadas yang sudah masuk wilayah Malang. Di Ngadas saya akan berhenti di jalan dan melanjutkan perjalanan entah dengan apa, tapi yang pasti bukan berjalan. Namun setelah melewati padang rumput dengan bukit-bukit ‘teletubbies’-nya, perjalanan menjadi menanjak. Masih di bawah sengatan matahari. Lelah menanjak, kaki saya akhirnya menginjakkan kaki di jalanan seperti paving block. Rapi dan cukup mulus. Tak lama akhirnya ada pepohonan untuk berteduh dan saya memutuskan untuk berhenti setelah satu jam lebih yang lalu saya berhenti untuk sarapan. Dari posisi saya istirahat ini pemandangan tak kalah indah, lembah coklat kehijauan di bawah. Seandainya kemarin hujan, mungkin yang saya lihat sekarang lemah hijau saja. Tapi tetap indah buat saya. Ternyata seperti itu daerah yang tadi saya lewati jika dilihat dari atas. Subhanallah!

Berjalan menyusuri jalan rapi namun menanjak itu akhirnya membuat saya tersiksa. Baru setengah jam berjalan, badan sudah tak karuan lelahnya. Padahal dua setengah jam berjalan sebelum jalan ini saya tidak merasa lelah sama sekali. Pemandangan sekitar juga tak kalah indah, sekarang berganti dengan hutan tropis dengan pepohonan heterogen dimana-mana. Tapi itu tak membantu, akhirnya semua penyesalan tertumpah, mulai dari kenapa hanya berangkat sendiri, kenapa tidak memebawa motor saja sampai kenapa begitu bodohnya menolak tumpangan motor saat di lautan pasir tadi. Tidak! Semua yang telah kita lakukan merupakan pilihan diri kita sendiri. Hanya pengecut yang mengeluhkan pilihannya sendiri. Sekarang pun ketika menulis ini saya tertawa betapa bodohnya saya yang waktu itu mengeluh sendiri di tengah hutan. Bodoh.

Melewati pertigaan Jemplang, yang merupakan percabangan jalan menuju Semeru dan Bromo, saya langsung melaju turun menuju Desa Ngadas. “Sebentar lagi, jalannya turun kok,” bisik saya pada diri sendiri menyemangati. Sebentar memang tapi cukup menyiksa karena bentuk jalan yang tidak bertangga sehingga ujung kaki sangat sakit menahan beban tubuh dan gravitasi. Belum sampai Ngadas, saya baru sadar, akan naik apa saya nanti? Berjalan lagi kah menuju Gubug Klakah, tempat angkutan terakhir ada? Gila! Saya belum tahu medan di sana seperti apa, sedangkan waktu menunjukkan pukul setengah sebelas lebih, dan jam setengah empat sore kereta Malabar menuju Madiun akan berangkat dari Stasiun Kota Baru Malang. Truk melintasi saya begitu saja dan pikiran saya hanya mengawang. Begitu truk itu tak terlihat lagi, saya baru sadar kenapa saya tidak menumpang truk tadi saja? Saya pun berjalan gontai kembali menuruni jalan dan membuat ujung kaki sangat sakit. Masih tanpa rencana, tanpa tahu seberapa jauh lagi menuju Malang. Di tengah kepasrahan itu terdengar suara truk dari belakang. Kali ini saya tidak mau melewatkan kesempatan. Akhirnya truk itu berhenti dan mau mengangkut saya. Tidak gratis, saya bayar dua puluh ribu rupiah sampai Tumpang. Dan ini menurut saya sangat setimpal ketimbang harus berjalan sampai Gubug Klakah yang ternyata sangat jauh atau harus naik ojek yang saya perkirakan dua puluh ribu itu hanya sampai Gubug Klakah saja.

Saya duduk di bagian belakang truk bersama barang bawaan truk itu, daun bawang. Badan saya terombang-ambing sangat keras sepanjang perjalanan. Saya lihat jalan memang cukup jelek tapi tidak terlalu parah, tapi kenapa guncangannya begitu hebat? Suspensi truk ini pasti sudah sangat tidak berfungsi, atau memang tidak butuh berfungsi baik, toh yang dibawa hanya daun bawang yang terlihat anteng saja dibanding saya yang terlempar ke berbagai arah. Perut mual, kepala pusing, diaduk-aduk selama setengah jam dan akhirnya berakhir setelah sampai di jalam aspal mulus, Gubug Klakah. Seandainya saya tadi jalan kaki.

Jam dua belas saya sampai di pasar Tumpang dan masuk ke angkot menuju Terminal Arjosari. Setengah jam ngetem akhirnya sang angkot baru berangkat. Masuk ke Kota Malang ada kejadian yang mengesalkan tapi cukup lucu. Di perempatan lampu merah entah daerah mana, saya bertanya ke seorang ibu di depan saya. “Kalo ke Stasiun Kota Baru Malang turun di mana ya?” “Oh, turun di sini aja, nanti naik angkot ADL atau GA ke arah kiri.” Tapi si supir langsung nimbrung dan bilang turunnya nanti saja di perempatan sana, sambil membelokkan angkotnya ke arah kanan, arah Terminal Arjosari. Padahal stasiun itu arahnya ke kiri berarti harusnya benar kata ibu itu kalau saya seharusnya turun di sini dan menyeberang. Tapi si supir ngotot menyuruh saya turun saja di ujung jalan sana, biar tidak usah menyeberang katanya. Tapi saya lihat jalur sebelah sangat macet, kalau saya berhenti di ujung sana saya akan terjebak macet, lebih baik saya turun dari sekarang dan menyeberang biar tidak terlalu terjebak macet. Akhirnya setelah dipaksa, si supir baru mau menurunkan saya. Entah alasannya apa, yang jelas saya jadi sangat kesal. Ditambah ketika saya menyerahkan uang tiga ribu rupiah dan dia menyuruh saya membayar lima ribu rupiah. Karena kesal, sambil saya memberikan kekurangan uangnya, saya refleks mengumpat, “sia maneh!!!”. Ups! Haha.. untung umpatan yang keluar bahasa sunda kasar, kalau saja bahasa Indonesia atau jawa mungkin bakalan panjang urusannya.

Sampai di stasiun jam dua siang, langsung membeli tiket kereta Malabar kelas ekonomi seharaga enam puluh ribu rupiah. Setelah bersih-bersih dan shalat, saya pun makan siang. Menu kali ini rawon seharga 10 ribu rupiah ditambah teh manis hangat dua ribu rupiah. Rasa biasa saja, tapi karena memang lapar akhirnya habis juga. Sambil menunggu saya pun tertidur di emperan stasiun.

Setengah empat sore kereta mulai berangkat. Suasana lengang. Aneh hari Minggu seperti ini kenapa sepi sekali. Akhirnya kekosongan tempat kursi saya manfaatkan untuk tidur selonjoran. Alhamdulillah bisa merebahkan badan. Ketika sampai di Kediri, saya baru tahu kenapa kereta ini awalnya sangat kosong. Ternyata ada rombongan sekitar lima puluh orang yang baru naik dari Stasiun Kediri.

Rombongan ini adalah siswa-siswa SMA Darussalam Ciamis yang memanfaatkan waktu liburannya untuk kursus bahasa inggris selama dua minggu di Pare, Kediri. Memang Pare ini sudah terkenal akan kursus bahasa inggrisnya, padahal dulu sepuluh tahun lalu belum seterkenal sekarang. Saya tahu, karena Pare adalah tempat budhe saya yang lain. Ritual mudik Jombang, Porong, dan Pare teringat kembali dalam satu buah perjalanan. Kebetulan memang, tapi buat saya terasa ada suatu makna yang lain.

Di kereta ini saya mengobrol dengan salah satu rombongan itu. Mengobrol dengan orang yang baru kenal di kereta saat ini selalu ada hal yang membuat saya agak bangga. “Di Madiun magang di mana?” “Di INKA, perusahaan kereta api, yang bikin gerbong ini, itu ada tulisannya di ujung gerbong”, jawaban saya ini akan terdengar tegas kalau saya duduk di gerbong bisnis atau ekonomi plus seperti ini. Tapi akan berubah menjadi datar ketika duduk di gerbong ekonomi. Setelah itu saya akan bercerita panjang lebar tentang perbedaan INKA dan KA. Walaupun saya akui INKA memiliki banyak kelemahan, tapi tidak ada yang mengalahkan banyaknya kelemahan perusahaan yang bernama PT. KA buat saya. Saya tidak ingin INKA disamakan dengan bobroknya PT. KA.

Bicara tentang perkenalan ada hal lain yang ingin saya ceritakan. Yaitu tentang daerah asal saya. “Mas asalnya dari mana?” Saya bingung mau menjawab apa. Saya berangkat dari Madiun, tapi di Madiun saya hanya sedang magang enam bulan. Sekarang saya masih berstatus mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Tapi saya juga bukan orang Bandung walaupun selama empat tahun ini lebih sering tinggal di Bandung. Saya dari kecil tinggal di Bogor. Bukan Bogor juga tepatnya, tapi Cibinong, daerah Kabupaten Bogor, lebih dekat ke Depok, kota kelahiran saya, dibanding ke Kota Bogor. Tapi ibu saya orang Jombang, Ayah saya memang besar di Kota Bogor, tapi beliau lahir di Jakarta. Jadi saya orang mana? Indonesia.

Ruangan tiba-tiba gelap. “Di mana saya?” tanya saya dalam hati. Ternyata saya hanya sedang terbaring di kamar. Saya ingat tadi saya sampai Madiun jam setengah sepuluh malam. Setengah sebelas saya pun tidur, dan sekarang tepat jam dua pagi. Ah, saya kembali tenggelam, sekarang tenggelam dalam gelapnya kamar kostan, tenggelam sendirian, tenggelam dalam lelapnya tidur. Lagi. Semoga dua hari kemarin bukan mimpi yang ketika saya membuka mata nanti sudah tak mampu diingat lagi oleh otak yang lemah ini.

Jangan biarkan langkah kakimu sia-sia melangkah tanpa ada setitik pun pembelajaran yang kau dapatkan dan amalkan.

Madiun, Juni 2011

kumpulan gambar: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2177030235404.2128810.1536309786

 

About faris

just ordinary man View all posts by faris

2 responses to “Tenggelam di Lautan Pasir Bromo Tengger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: