127 Hours

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film. Ya, akhirnya saya nonton film lagi setelah berminggu-minggu. Maklum, di Madiun ga ada bioskop trus stok film di laptop juga udah mulai berkurang yang berkualitas, hehe.. Ngomong-ngomong berkualitas, ya memang saya cenderung pemilih untuk nonton sebuah film. Syaratnya cuma 2, menarik dan menginspirasi. Untuk syarat yang pertama itu tergantung selera individu masing-masing, kalo syarat kedua itu ya tergantung filmnya.

Oke, langsung aja, tadi saya nonton “127 Hours”. Kalo ga salah masuk nominasi Oscar taun kemaren, tapi saya ga tau di kategori apa dan menang apa ngga, hehe.. Awalnya saya ga yakin dengan judulnya, berasa film laga yang ceritanya gitu-gitu aja, standar lah ada jagoan, ada penjahat, trus ada sandera. Ga menarik buat saya, kecuali ada sesuatu variasi lain. Tapi ternyata, setelah dapet rekomendasi dari temen dan dapet gambaran ceritanya, saya jadi tertarik. Yang langsung kebayang sekarang kaya film “Into the Wild”, film yang buat saya luar biasa, karena saya berhasil dibuat ngiri dengan si tokoh utama yang bisa berpergian ke alam bebas meninggalkan kehidupannya di kota. Ya, terkadang saya ingin melakukan itu, tapi nyali ini masih terlalu kecut untuk ngelakuinnya, apalagi setelah liat ending terakhir filmnya. Si tokoh utama akhirnya mati. Mati di alam bebas. Sebenernya saya ga suka akhir ceritanya, tapi ya gimana lagi toh itu memang kejadiannya nyata.

Balik lagi deh ke “127 Hours”. Jadi ini juga cerita nyata, Aron Ralston si tokoh utamanya. Dia itu bisa dibilang pecinta alam, penyuka kebebasan dan tantangan. Ah, mirip banget sama saya, tapi dengan nyali dan pengalaman yang jauh lebih banyak dari saya. Suatu saat dia pergi ke Canyon Land dengan mobil tanpa memberi tahu satu orang pun kerabatnya. Sampai di suatu tempat dia lanjutkan perjalanan dengan sepeda dan selanjutnya dia jalan kaki. Awal cerita dia bertemu dengan sesama petualang. Hmm, skip aja, pokoknya akhirnya mereka pisah karena beda tujuan. Dia lanjutin jalan kaki sendiri melintasi Canyon Land dengan tujuan tempat bernama Blue John Canyon. Sampai di suatu tempat, di celah sempit antara 2 tebing dan dia ingin masuk ke celah tersebut. Namun naasnya, saat dia loncat ke celah sempit tersebut, dia menyenggol sebuah batu yang akhirnya menggencet tangannya di celah sempit antara 2 tebing tersebut. Dan cerita pun baru dimulai.

Untuk beberapa saat dia tampak kaget dan berusaha secara brutal untuk melepaskan diri, tapi setelah beberapa jam akhirnya dia menyadari bahwa ini akan berlangsung lama. Dengan persediaan makanan dan minuman yang sedikit dia berusaha segala macam cara untuk melepaskan diri dari batu yang menggencet tangan kanannya. Pertama dia mencoba mengikis batu dengan pisau lipat kecil, namun setelah beberapa jam tetap tidak memeberikan hasil yang signifikan. Selanjutnya dia mencoba menarik batu tersebut dengan tali, namun tetap saja hasilnya nihil.

Banyaknya energi yang digunakan untuk melepaskan diri selama berjam-jam bahkan sampai 2 hari lebih membuat persedian makanan dan minuman semakin sedikit, akibatnya dia mulai mengalami berbagai macam halusinasi dan terpaksa meminum air kencingnya sendiri.

Di tengah keputusasaan dan lemah tubuhnya, dia merasa menyesal karena tidak memberi tahu siapa-siapa tentang rencana dia pergi ini, bahkan dia tidak menjawab telepon ibunya di malam sebelum dia akan berangkat. Di saat itu dia sungguh sangat merasa betapa berartinya orang-orang di sekitarnya. Dengan kamera video yang dia bawa, dia rekam semua testimoni dan curahan hatinya, yang mungkin suatu saat akan ditemukan orang-orang yang dicintainya meskipun ia telah membusuk di celah tebing itu.

Namun, dengan mengingat orang-orang yang dicintainya itu, dia semakin memiliki keinginan lebih untuk selamat. Akhirnya dia melakukan hal yang nekat dan mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya, yaitu dengan memotong lengan kanannya yang tergencet itu. Ya, itu memang resikomu. Resiko dari setiap langkah yang kamu ambil. Dan kamu harus menghadapi takdirmu, meski harus mengorbankan sesuatu. Akhirnya dengan pisau lipat kecil itu dengan susah payah akhirnya ia bisa terlepas juga dengan meninggalkan tanggan kanannya tetap tergencet antara batu dan tebing. Masih banyak hikmah yang bisa diambil dari film ini, tergantung kita mengambil sudut pandang dari mana. Tapi buat saya, kebersamaan, pengorbanan, dan keinginan bertahan hdup adalah tiga hal penting yang bisa saya ambil. Selain saya juga menyukai dan ingin meniru petualangan yang dia lakukan😀

About faris

just ordinary man View all posts by faris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: