Pendidikan: Belajar Menjadi Manusia

Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan)
Ing madyo mangun karso (di tengah membangun kehendak)
Tut wuri handayani (dari belakang memberi motivasi)
– Ki Hajar Dewantara

Pernah mendengar kalimat di atas? Pernah tahu artinya? Pernah tahu maknanya? Pernah merasakan implemetasinya? Haha, saya berani bertaruh kalau sebagian besar dari Anda akan menjawab belum, terutama pertanyaan saya yang terakhir.

Ki Hajar Dewantara, yang hari kelahirannya, hari ini, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, telah memberikan sumbangsih filosofi pendidikan bagi Indonesia pada saat ia membangun Nationaal Inderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Tamansiswa. Tiga kalimat di atas lah filosofi pendidikan itu dan memang seharusnya seperti itulah pendidikan yang sebenarnya. Dalam tiga kalimat tersebut, manusia merupakan subjek dari sebuah proses pendidikan, bukannya sebagai objek.

Mari kita bahas satu per satu. Yang pertama, “di depan memberi teladan”. Ya! salah satu proses pendidikan adalah pemberian teladan atau contoh. Kenapa ini ditempatkan di awal? Karena inilah cara manusia belajar untuk pertama kali, yaitu dengan mengikuti perilaku atau perkataan orang-orang di sekitarnya. Anda pertama kali bicara pasti megikuti suara ibu atau ayah Anda kan? Haha, Anda tak mungkin sadar, tapi silahkan tanya orangtua Anda kalu ingin memastikan. Tapi tetap, Anda lah pelaku utama pendidikan. Anda lah yang bersusah payah meniru orang-orang di sekitar Anda.

Baik cepat saja saya akan membahas ini. Selanjutnya adalah, “di tengah membangun kehendak”. Ah, saya paling suka filosofi yang ini. Kenapa? Karena belajar itu butuh kehendak dan pendidikan bertujuan untuk membangunnya dari diri kita. Jadi, pendidikan tidak secara langsung membuat kita belajar, tapi membangkitkan sesuatu yang membuat kita ingin selalu belajar. Paham? Haha, maaf kalau bahasa saya kacau, masih butuh terus dibangkitkan kehendak untuk belajar cara menulis yang baik🙂

Yang terakhir ini adalah “dari belakang memberi motivasi/dorongan/semangat”. Tanpa dua kalimat sebelumnya, kalimat ini tak berarti. Mengapa? Silahkan temukan ide Anda sendiri, saya tidak ingin mencekoki Anda dengan gagasan saya, karena tidak sesuai dengan tiga filosofi tadi😀

Kesimpulannya, filosofi yang telah dikemukakan oleh Bung Dewantara sebenarnya telah menunjukkan bahawa pendidikan itu memanusiakan manusia, karena memposisikan manusia sebagai subjek dalam proses dirinya belajar menjadi manusia, bukan seperti pada kenyataan sekarang yang justru memposisikan manusia sebagai objek. Objek tak akan mampu berbuat apa-apa, ia hanya akan melakukan apa yang diinginkan subjek. Jadi, kita hanya akan menjadi apa yang diinginkan para “perancang” pendidikan Indonesia. Tapi kan yang diinginkan “perancang” itu baik (semoga)? Hmm, bukankah tidak ada yang mengetahui apa yang terbaik baginya selain dirinya sendiri? Lagipula, setiap manusia punya cara belajarnya sendiri, punya karakteristik berbeda. Jadi alangkah lebih baik jika dia menjadi subjek atas proses belajarnya sendiri dan peran pendidikan adalah 3 filosofi tadi.

Hey tunggu! Tadi saya bilang belajar jadi manusia bukan? Judul tulisan ini pun berbunyi begitu. Maksudnya? Ya! Proses belajar tentu ada tujuannya kan? Menjadi manusia lah tujuannya. Kita seharusnya belajar menjadi manusia dengan cara kita sendiri dan dengan panduan “pendidikan” dalam 3 filosofi tadi. Belumkah kita menjadi manusia? Silahkan baca kembali tulisan saya sebelumnya, Manusia itu Tamak (?) (sangat dianjurkan membaca ini dulu). “orang” hanyalah sebuah kata ganti benda, tak bernyawa, hanya sekumpulan data. Sedangkan “manusia”, mempunyai ruh, mempunyai akal budi, sebuah tujuan dari proses belajar seorang manusia itu sendiri.

Hmm, masih banyak yang ingin saya katakan tentang pendidikan dan serba-serbinya. Lahir sebagai anak dari dua orang yang katanya berprofesi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, membuat saya cukup mengerti tentang realitas pendidikan di Indonesia. APBN pendidikan, kesejahteraan guru, kondisi sekolah-sekolah di daerah pinggiran, UAN, biaya pendidikan, dan lainnya ingin sekali saya komentari. Ah, tapi apalah saya, hanya sebuah produk dari pendidikan yang justru saya “caci maki” di tulisan ini karena telah melanggar jauh dari filosofi pendidikan Bung Dewantara. Cukup. Cukup tulisan kecil ini dulu, karena percuma APBN pendidikan ditambah kalau perwujudan filosofi pendidikannya salah bukan? Percuma juga berdebat UAN ada atau tidak kalau dua kubu yang berdebat juga tidak paham filosofi pendidikan, ya kan?

Selamat Hari Pendidikan!

ditulis juga di http://www.muhamadfarisnaufalausten.tumblr.com

About faris

just ordinary man View all posts by faris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: